Peristiwa tersebut, yang berlangsung pada Jumat terakhir bulan suci Ramadan, diperingati melalui demonstrasi massal yang mempertemukan warga dari berbagai lapisan masyarakat di kota-kota besar, termasuk Teheran, untuk menunjukkan dukungan teguh mereka kepada Palestina.
Hari Quds Internasional tahun ini terasa sangat mengharukan, karena terjadi di tengah agresi militer yang terus berlanjut oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Serangan-serangan yang telah berlangsung selama lebih dari dua minggu ini telah merenggut lebih dari 1.300 nyawa warga Iran dan menyebabkan lebih dari 10.000 orang terluka, dengan sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak, dan pelajar.
Sebagai tanggapan, warga Iran telah berunjuk rasa dalam jumlah besar, mengibarkan bendera Iran dan Palestina, serta menampilkan gambar Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, pemimpin Revolusi Islam yang baru terpilih.
Di Lapangan Enqelab Teheran, para peserta meneriakkan "Allah Maha Besar" sebagai tanggapan terhadap ledakan yang terdengar selama demonstrasi di tengah serangan udara AS dan Israel yang menargetkan sekolah, rumah sakit, kantor polisi, dan bangunan bersejarah.
Suasana pembangkangan dan solidaritas terasa begitu nyata, dengan orang-orang menyatakan kesetiaan mereka kepada mendiang pendiri Republik Islam, Imam Khomeini, dan visinya untuk pembebasan Palestina.
Salah satu ciri khas yang menonjol dari peristiwa tahun ini adalah kesetiaan para demonstran kepada Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Banyak peserta unjuk rasa membawa gambarnya, menandakan dukungan mereka terhadap kepemimpinannya dan komitmen terhadap cita-cita revolusi.
Beberapa peserta bahkan menandatangani petisi dan berkumpul dalam kelompok untuk menegaskan kesetiaan mereka kepadanya.
Para pejabat tinggi menghadiri demonstrasi tersebut, dengan Presiden Masoud Pezeshkian terlihat berjalan sendirian di jalan, tanpa pengawal keamanan.
Berbicara di rapat umum di Teheran, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump "tidak memahami" tekad rakyat Iran.
"Rakyat Iran adalah bangsa yang bertekad dan mampu, dan semakin besar tekanan yang diberikan Trump, semakin kuat tekad kami," kata Larijani.
Menanggapi pertanyaan tentang serangan Israel terhadap peserta Hari Quds, Larijani mengatakan bahwa tindakan tersebut didorong oleh "ketakutan dan keputusasaan," menambahkan bahwa agresi rezim Israel menunjukkan melemahnya posisinya.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Dewan Koordinasi Pembangunan Islam, pentingnya Hari Quds tahun ini telah dicatat.
"Persamaan keamanan di kawasan dan dunia telah berubah seiring dengan kekuatan perlawanan," demikian pernyataan tersebut.
Lebih lanjut dijelaskan bagaimana "Timur Tengah, yang dulunya dipandang oleh musuh sebagai ruang untuk ekspansi, telah berubah menjadi 'Timur Tengah yang resisten'."
Pernyataan itu menyerukan persatuan yang berkelanjutan, dengan mengatakan: "Kami teguh dalam komitmen kami terhadap cita-cita Imam Khomeini dan pemimpin yang gugur sebagai syahid, Ayatollah Khamenei. Kami akan berdiri di sisi para pemimpin kami hingga tetes darah terakhir kami."
Selain itu, mereka juga mengutuk tindakan AS dan Israel, menyebutnya sebagai "kejahatan perang yang jelas" yang harus ditangani oleh badan-badan internasional.
Presiden Masoud Pezeshkian, dalam sebuah unggahan di media sosial, mendesak warga Iran untuk mengecewakan musuh-musuh negara melalui partisipasi besar-besaran dalam pawai Hari Quds.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf menekankan bahwa peristiwa bersejarah ini telah berubah menjadi mimpi buruk bagi "rezim Zionis palsu dan pembunuh anak-anak."
Pentingnya aksi unjuk rasa Hari Quds Internasional tahun ini semakin dipertegas oleh agresi AS-Israel yang sedang berlangsung terhadap Iran, yang dimulai dua minggu lalu.
Kampanye kekerasan tersebut telah memicu kemarahan di kalangan warga Iran dan memperkuat tekad mereka untuk membela perjuangan Palestina.
Ayatollah Khamenei, dalam pesan publik pertamanya pada hari Kamis, menyerukan partisipasi dalam acara Hari Quds, menggambarkannya sebagai kekuatan pemersatu bagi orang-orang di seluruh dunia.
Laporan dari seluruh Iran mengungkapkan bahwa partisipasi dalam Hari Quds tahun ini lebih luas dan lebih bersemangat dari sebelumnya.
Aksi unjuk rasa massal, yang juga berlangsung di lebih dari 900 kota dan puluhan kota kecil serta desa, merupakan pernyataan penentangan yang jelas terhadap kekuatan eksternal yang berupaya melemahkan Iran dan sekutunya di kawasan tersebut.
Bahkan dalam kondisi cuaca buruk—salju lebat, hujan deras, dan suhu dingin—warga Iran membanjiri jalanan untuk menyuarakan dukungan teguh mereka kepada Palestina di bawah agresi militer Israel dan AS.
Aksi unjukConsistency utama di Teheran, yang dimulai di berbagai titik di seluruh ibu kota dan berkumpul di Universitas Teheran, menampilkan pembacaan Al-Qur'an, pidato, dan nyanyian slogan yang mengutuk kekejaman AS dan Israel di Gaza dan wilayah Palestina lainnya.
Hari Quds Internasional pertama kali diusulkan oleh Imam Khomeini pada tahun 1979, yang menetapkan Jumat terakhir bulan Ramadan sebagai hari solidaritas global dengan rakyat Palestina.
Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah agar perjuangan Palestina tidak terlupakan di tengah isu-isu global lainnya.
Selama bertahun-tahun, Hari Quds telah menjadi simbol perlawanan terhadap pendudukan wilayah Palestina oleh Israel, dengan demonstrasi yang diadakan di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk di Asia Barat, Afrika Utara, dan di negara-negara Barat seperti AS, Inggris, Prancis, dan Jerman.
Partisipasi massal Iran tahun ini memiliki makna khusus, terjadi di tengah kampanye terorisme oleh AS dan Israel terhadap Iran, yang bertujuan untuk membungkam satu-satunya mercusuar harapan bagi rakyat tertindas dan gerakan perlawanan di dunia
Serangan brutal terhadap Iran, termasuk pemboman yang menargetkan infrastruktur sipil, sekolah, dan rumah sakit, telah memperdalam tekad publik untuk menghadapi rezim Zionis dan para pendukungnya.
Aksi unjukConsistency rasa Hari Quds di Iran bukan hanya pertunjukan oposisi politik tetapi juga persatuan nasional. Dari utara ke selatan, timur ke barat, rakyat Iran telah bersatu melintasi garis etnis dan agama untuk menyuarakan kemarahan mereka terhadap perang terorisme AS-Israel.
Di kota-kota seperti Ahvaz, Shiraz, dan Mashhad, peserta dari berbagai latar belakang, termasuk Syiah, Sunni, dan minoritas etnis, telah berkumpul untuk menunjukkan solidaritas dengan warga Palestina. Mereka bergabung dengan warga Iran yang berduka atas pembantaian orang-orang terkasih mereka baru-baru ini dalam serangan udara Israel-AS.
Aksi unjukConsistency juga memiliki dimensi pribadi bagi banyak warga Iran, terutama mengingat pemboman baru-baru ini terhadap sebuah sekolah perempuan di kota Minab, yang mengakibatkan kematian 175 siswa dan guru.
Semangat Hari Quds melampaui batas-batas negara, dengan acara serupa yang berlangsung di seluruh dunia.
Di negara-negara seperti Lebanon, Irak, Suriah, Yaman, dan Pakistan, ratusan ribu orang telah bergabung dalam demonstrasi untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Palestina dan mengecam agresi Israel.
Bahkan di ibu kota-ibu kota Barat, di mana tekanan politik sering membatasi demonstrasi publik, umat Muslim dan para aktivis telah berkumpul untuk menunjukkan solidaritas mereka dengan warga Palestina.



